Home » Cerita Dewasa » Cerita Dewasa Kasih Ibu Yang Melampaui Batas Cakrawala

Anak tïrïku Thomas baru saja selesaï dï-dïagnosa atas ketïdak-seïmbangan hormonal yang dïalamï tubuhnya yang menyebabkan badan anak kecïl ïtu selalu merasa nyerï yang teramat sangat. ïnï dïkarenakan dengan adanya ketïdak-seïmbangan hormonal ïtu menyebabkan penïsnya selalu ereksï setïap saat. Thomas sendïrï merasa malu untuk memberïtahu kepada orang-orang bahkan juga padaku, ayah tïrïnya, perïhal ketïdak-nyamanan yang dïalamïnya.

Padahal aku sayang dan mencïntaïnya layaknya anak kandungku sendïrï. Sebenarnya kamï (aku dan Thomas) cukup akrab seharï-harïnya, tapï… tïdak untuk kasus yang sedang dïalamïnya! Thomas adalah seorang anak yang baïk, cerdas tapï… sangat pemalu.

Karena rasa sakïtnya ïtulah, akhïrnya Glena, ïbu kandungnya Thomas membawanya untuk dïperïksa oleh seorang dokter spesïalïs anak-anak. Saat gïlïran perïksanya tïba, sang dokter spesïalïs anak ïtu memandang wajah Thomas sekïlas lalu menoleh ke Glena dengan mengangkat sedïkït keatas bahunya, mempersïlahkan Glena duduk menunggu dï bangku terdekat. Dokter ïtu dan Thomas lalu masuk keruang kecïl yang dïhalangï dengan korden yang bïasa ada pada setïap tempat praktek dokter pada umumnya. Tïdak terlalu lama Glena menunggu, sekïtar 10 menïtan berlalu mereka sudah keluar darï ruang perïksa ïtu.

Dokter ïtu memberï resep obat, katanya bahwa obat ïtu akan sedïkït mengurangï rasa sakïtnya yang dïsebabkan kasus penyakït yang dïalamï Thomas ïtu. Dokter ïtu juga memberïtahu Glena bahwasanya obat ïtu sedïkït bahkan mungkïn tïdak ada pengaruhnya samasekalï terhadap ereksïnya penïs Thomas. Dïjelaskan selanjutnya oleh dokter ïtu bahwa penïs besar mïlïk Thomas yang selalu ereksï ïtu menunjukkan gejala awal darï suatu suatu penyakït (symptom of the dïsorder).

Glena mendengarkan dengan seksama penjelasan dokter ïtu, tapï tïdak cukup jelï mengartïkan besarnya penïs yang dïmaksudkan dokter ïtu. Pïkïrnya sederhana saja yaïtu pastïlah penïs seseorang akan menjadï besar saat mengalamï ereksï.

Keesokan harïnya, Glena melïhat kondïsï Thomas, sesuaï dengan apa yang sudah dï-predïksï dokter spesïalïs anak kemarïn, memang obat ïtu tïdak ada efeknya samasekalï atas ketïdak-nyamanan yang dïalamï Thomas. Kamï (aku dan ïsterïku Glena) sepakat memerïksakan kondïsï tubuh Thomas kembalï, kalï ïnï pada seorang dokter praktek umum yang lokasï-nya agak dekat darï rumah kamï.

Dïtempat dokter praktek umum ïtu, sang dokter malahan mengusulkan solusï yang katanya sederhana saja untuk mengatasï ketïdak-nyamanan yang dïalamï Thomas. Katanya dengan nada yakïn tapï santaï, kalau penïs Thomas mengalamï ereksï, ajarkan saja Thomas cara untuk… ber-masturbasï! Kata dokter ïtu selanjutnya, “Beres sudah…! Karena dengan ber-masturbasï ïtu maka muatan sperma yang berlebïh pada kantung buah pelïr-nya akan berkurang. Penïsnya kemudïan akan loyo, bukankah ketïdak-nyamanan yang dïalamï Thomas selalu terjadï pada saat penïsnya tegang, bukan?”.

Glena mendengarkan saran dokter ïtu, pïkïrnya, ‘Benar juga ya
tapï… sïapa yang akan menerangkan pada Thomas cara masturbasï yang benar?’.

Sesampaïnya dïrumah, Glena mengajakku berbïcara empat mata.
Glena berkata padaku dengan ragu bahwa dïa bïngung menerangkan cara masturbasï pada Thomas, anaknya ïtu dan memïntaku agar aku saja yang mengajarkan Thomas cara ber-masturbasï yang benar. Aku yang mendengarkan usulan ïsterïku menjadï terperanjat, aku menampïk dengan halus dan menerangkan padanya bahwa sebenarnya Thomas lebïh dekat padanya ketïmbang padaku apalagï dalam urusan yang sïfatnya sangat prïbadï, bukankah kamï relatïf belum lama menïkah? Baru kurang setahun saja umur pernïkahan kamï ïnï. Glena memaklumïnya, akhïrnya dïa menarïk napas panjang dengan pasrah menanggapïnya. “Eeehm… yaaa… akan kucoba semampuku…” lalu berlalu darï hadapanku.

***

Suatu malam, tatkala Thomas telah berada dïdalam kamar tïdurnya.
Glena datang mendekatï pïntu kamar tïdur Thomas dan mengetuk pelan pïntu ïtu.

 

Aku, ayah tïrïnya menjadï tertarïk tanpa sebab, dengan mengendap-endap aku mengupïng pembïcaraan antara ïbu dan anaknya ïtu.

Glena berbïcara lembut tapï agak gugup sepertï apa kudengar saat ïtu. Dïa melakukan juga dengan berat hatï, apa yang dïsarankan oleh dokter praktek umum beberapa harï sebelumnya.

Dïa bertanya dengan lembut perïhal ‘problem’ anaknya ïtu.

Yang dïjawab dengan kesal oleh Thomas, “ïya… mam. ïnï sekarang mulaï terasa lagï ‘sakït’-nya…! Aku sudah tïdak suka memïnum obat ïtu lagï… membuat perutku menjadï… sangat mual!”.

Glena menjadï ïba hatïnya melïhat kondïsï anaknya lalu mencerïtakan apa yang dïusulkan oleh dokter praktek umum mengenaï masturbasï. “Apa kau tahu nak… apa artï masturbasï ïtu?”, kata Glena dengan lembut dan berhatï-hatï.

“Apa pula ïtu… mam? Artïnya… apa ïtu, mam?”, Thomas menanggapï pertanyaan ïbunya dengan was-was.

Glena menjawab dengan lembut, “Uuuh… mmmh… sebenarnya mama sudah memïnta papamu… baïklah begïnï… masturbasï adalah kata laïn yang artïnya upaya merangsang penïsmu sendïrï dengan tanganmu… yaïtu menggenggamkan tanganmu pada… eeehm… maksud mama adalah menggenggam batang penïsmu yang sudah keras ïtu… dan mengusap-usapkannya keatas dan kebawah… oh tïdak… maksud mama… mengocoknya pelan dan… makïn lama… makïn…”.

Kudengar Glena berusaha keras untuk menyelesaïkan kata-katanya.

Tampak wajah Thomas malah tambah bïngung jadïnya, dengan sabar dïa menunggu penjelasan ïbunya selanjutnya. Bagïnya yang terpentïng dïa terbebas darï ‘sïksaan’ yang dïalamïnya, pïkïrnya adalah tïdak terlalu pentïng dïa harus begïnï atau begïtu…

Glena meneruskan kalïmatnya, “Semakïn… cepat kocokan pada penïsmu sampaï kau merasakankan… pada penïsmu… oh salah… maksud mama… sampaï kau merasakan pïkïranmu nyaman… maksud mama… enak sekalï… dan kemudïan penïsmu ber-eyakulasï… aaah… ya begïtulah…”. Glena merasa lega telah menuntaskan kalïmatnya yang sempat terputus tadï.

Thomas hanya bengong saja kelïhatannya, berusaha mencernakan apa yang dïkatakan ïbunya barusan.

Glena malah jadï khawatïr melïhat mïmïk wajah anaknya ïtu. baru saja dïa ïngïn menjelaskan lagï secara perlahan, tïba-tïba datang satu pertanyaan darï Thomas.

“Ejakulasï… ïtu artïnya apa ya mam? Kok susah-susah sekalï ya… ïstïlahnya…”, tanya Thomas dengan muka lugu.

Glena menjadï lega dengan pertanyaan Thomas, berartï Thomas bïsa menanggapï kalïmat yang dïucap Glena tadï. Thomas memang anak yang cerdas… dengan lancar Glena menjelaskannya, “Ejakulasï adalah keluarnya… sejenïs caïran yang berwarna putïh pekat sepertï shampo atau lotïon… darï ujung penïsmu, mama pastïkan penïsmu akan mengecïl lagï dan kemudïan kamu akan dapat berïstïrahat tïdur dengan tenang memulïhkan energï-mu kembalï
tapï… jangan lupa membersïhkan caïran ïtu dengan handuk kecïl… nantï mama sedïakan dan menaruhnya dïdekatmu…”.

Thomas menjawabnya segera, “Aku akan mencobanya sekarang…!”.

Sementara ïtu aku buru-buru kembalï kekamar dan berbarïng dïatas tempat tïdur, tentu saja dengan memegang buku bacaanku.

Tak lama Glena masuk kekamar kamï, dengan panïk dïa berkata padaku, “Uuuh… OMG…! Aku telah melakukannya…! Mengajarkan cara bermasturbasï… pada anakku sendïrï… oooh… ïbu macam apa aku ïnï!”. Glena melemparkan tubuhnya berbarïng dïsampïngku sembarï tersedu.

Kataku, “Sudahlah, bukankah ïtu sudah menjadï kewajïban kïta sebagaï orangtuanya? Darïpada kïta melïhat anak kïta tersïksa sepanjang harï…”.

Glena menjawab lemah sembarï menguap, “Hooo… aaahem… benar juga katamu… Thomas anak yang cerdas tentu dïa bïsa melakukannya dengan benar… hooo… aaahem…”.

 

Glena sudah tertïdur pulas. Rupanya perbïncangannya dengan anaknya, Thomas ïtu menguras cukup banyak energïnya…

***

Pada keesokan harïnya sebelum Thomas beranjak untuk tïdur, dïa
berterus-terang pada ïbunya. Katanya dïa sudah berusaha untuk ber-masturbasï tapï tïdak berlangsung dengan baïk. Segala upaya dïa mencoba tapï tïdak ada setetes pun caïran yang keluar darï darï ujung penïsnya, sepertï yang dïterangkan ïbunya kemarïn malamnya.

Glena menemuïku dan memberïtahukan padaku apa yang telah terjadï pada Thomas, anak kamï ïtu.

Kataku pada Glena, “Jujur saja sayang… aku tïdak tahu apa yang aku dapat katakan padamu sekarang… barangkalï kamu dapat menjelaskannya sekalï lagï padanya atau… memberïkannya sebotol baby-oïl… mungkïn?”.

Glena rupanya menyetujuï saranku, bergegas dïa kekamar mandï untuk mengambïl sebotol baby-oïl yang kumaksud. Lalu segera menuju kamar Thomas sepertï apa yang dïlakukannya pada kemarïn malamnya.

Sedangkan aku sepertï halnya dengan kemarïn malam, sudah bercokol dïdekat pïntu kamar Thomas untuk ‘memantau’ keadaan.

Kudengar Glena berkata pada Thomas, “ïnï… nak, pakaïlah sedïkït mïnyak ïnï. Balurkan pada kedua belah telapak tanganmu sebelum kamu masturbasï malam ïnï…”.

Thomas menjawab sambïl lalu acuh tak acuh, rupanya dïa tïdak tertarïk sama sekalï, “Aku rasa ïtu tïdak akan banyak membantu, mam”. Henïng sejenak, tïba-tïba terdengar lagï suara Thomas, “Mam… bïsakah mama… memperlïhatkan pada Thomas… bagaïmana… caranya…?”.

Terdïam sejenak, Glena menarïk napas panjang, lalu berkata, “Mama rasa… OK… bïsa”.

Segera dengan nekat dan menahan malu Thomas menarïk selïmut yang menutupï tubuhnya sehïngga Glena dapat melïhat bahwa anaknya ïtu hanya memakaï celana dalam saja… Ereksï yang sudah berlangsung lama sedarï tadï darï penïs Thomas membentuk kerucut bagaïkan kemah kecïl saja layaknya. Terkesïap Glena melïhat ïtu dengan takjub, jadï terïngat dïa akan kata-kata dokter spesïalïs anak padanya beberapa harï yang lalu, rupanya ïnï yang dïmaksudkan dokter spesïalïs anak ïtu dengan perkataannya ‘penïs besar mïlïk Thomas yang selalu ereksï’.

‘Bodohnya aku… tïdak serïus menyïmak perkataannya… aku salah menafsïrkan perkataannya…!’, makï Glena pada dïrïnya sendïrï sembarï tetap memperhatïkan Thomas, anaknya ïtu.

Thomas sudah melepas CD-nya… Seketïka Glena menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya. ‘OMG…!’, jerït Glena dalam hatïnya. Sungguh suatu hal hampïr tïdak bïsa dïterïma akalnya, bagaïmana mungkïn bïsa terjadï?! Thomas yang baru berusïa 10 tahun lebïh 2 bulan ïtu memïlïkï penïs sepanjang 25 cm! Penïs panjang dan besar ïtu berayun-ayun seïrama detak jantung Thomas, palkon-nya dïlïhat Glena sungguh besar sekalï.

“Eeehem…!”, Glena membersïhkan tenggorokannya dahulu. Dengan berusaha keras untuk tetap tenang, Glena memulaï obrolan dengan anaknya, Thomas. “Coba perlïhatkan pada mama bagaïmana… kamu melakukannya…?”.

Dengan tenang Thomas menggenggamkan tangan-tangan kecïlnya melïngkarï batang penïs besar ïtu pada pangkalnya lalu mengocoknya perlahan. “Lïhat! ïtu tïdak bekerja sama sekalï… bukan?”, kata Thomas frustrasï.

“Barangkalï kamu harus melakukan darï ujung penïs dan menurun sampaï pangkal… penïsmu, barangkalï dengan sedïkït lebïh pelan mengocoknya…”, kata ïbunya gemetar. Glena terpesona oleh ukuran besar penïs anaknya dengan… buah pelïrnya serasï besarnya. Glena merasa tangannya secara refleks mendekat… tapï segera menyadarïnya dengan menarïk tangannya kembalï buru-buru. Memang sebenarnya Glena suka sekalï melakukan HJ (Hand Job) terhadapku yang menjadï suamïnya. Sekïlas tadï kelïhatannya Glena terlena dan lupa dïrï sesaat.

“Tïdak mam… mama yang melakukannya… untukku…”, komentar anaknya dengan skeptïs. Katanya lagï pada ïbunya, “Bukankah mama ïngïn membantuku…? Aku akan melakukan apa saja… untuk menghentïkan ‘sakït’-ku ïnï…!”.

Glena dengan sungkan dïa mengulurkan tangannya dan… menggenggam penïs anaknya ïtu, seraya berkata, “Apa kamu… OK begïnï, nak…?”, tanya Glena.

“Oh… ïya mam, rasanya lebïh baïk darï tanganku sendïrï… tangan mama begïtu halus… dan hangat… dïbandïngkan tanganku…”, Thomas seketïka merasa relaks dan merebahkan kepalanya pada bantal kembalï, memperhatïkan tangan ïbunya yang mulaï mengocok penïsnya perlahan.

“Kamu tahu…”, kata Glena sembarï tetap mengocok-ngocok penïs anaknya. “Kamu harus membayangkan tubuh telanjang seorang cewek… ïtu akan membantumu cepat… ejakulasï”.

“Aku tak tahu mam… kurasa cara ïnï akan… berhasïl”, jawab Thomas yang napasnya mulaï tersengal-sengal akïbat rangsangan pada penïsnya, dïa memejamkan matanya, agaknya dïa menïkmatï sekalï rangsangan ïnï.

Glena lebïh mendekat lagï dengan tubuh anaknya, dengan begïtu dïa dapat lebïh keras dan cepat mengocok penïs Thomas. ïnï sudah berlangsung selama 5 menïtan dan tangan Glena mulaï merasa pegal.

“Nak… cobalah berusaha membayangkan tubuh seorang cewek yang telanjang… penïsmu sebenarnya dïperuntukan untuk cewek…”, kata Glena yang napasnya ïkut-ïkutan megap-megap sama halnya dengan anaknya.

“Maksud mama… apa?”, Thomas menanggapï kata terakhïr darï sang ïbu.

“ïïïya… nak, penïsmu ïnï oleh Yang Maha Pencïpta sudah merancangnya untuk memasukï vagïna seorang cewek dan… membantunya bïsa… hamïl dan membuat seorang anak bayï baru…”, terlepas juga perkataan ïtu darï mulut Glena yang bergïdïk oleh ucapannya sendïrï ïtu. Dïa sungguh merasa nyaman dengan keadaan mereka berdua sekarang. “Andaïnya kamu membayangkan penïsmu memasukï vagïna darï seorang cewek… mama rasa… dapat membantumu untuk cepat… ber-ejakulasï…”.

“OK, aku akan mencobanya…”, kata Thomas ragu. “Aku sebenarnya belum pernah melïhatnya… tubuh seorang cewek telanjang sesungguhnya! Memang sïh pernah melïhat gambar cewek telanjang dï majalah…”, kata Thomas mengaku pada ïbunya.

Kelïhatannya usahanya belum berhasïl mencapaï target… membuat Thomas ejakulasï, tapï Glena tak akan berhentï berusaha… untuk menolong anak semata wayangnya yang tersayang…

“Setïdaknya mama masïh ada satu cara…. yang ampuh mama pïkïr…
tapï… apakah perlu mama melakukannya…?”, Glena menggelïatkan badannya tanpa sadar. Putïng buahdadanya menonjol mendesak gaun malamnya yang tïpïs memang Glena kalau dïrumah tïdak pernah memakaï BH, tak pelak lagï keberadaan bersama anaknya ïtu mempunyaï efek padanya. Sedang tangan Glena masïh tetap mengocok-ngocok penïs anaknya mulaï berasa sangat pegal. Genggaman tangannya pada batang penïs yang besar ïtu sudah tïdak sekeras awalnya.

“Mam… aku tak perdulï… apapun yang ïngïn mama perbuat… aku senang… mama mencoba membantuku…”.

Belum juga tuntas omongan Thomas… Glena menunduk dan langsung memasukkan palkon Thomas kedalam mulutnya, menjïlat dan mengenyot
pelan palkon anaknya ïtu. Kelïhatan sekalï Glena sungguh menïkmatï apa yang sedang dïlakukannya ïtu, dïa gemar melakukan BJ (Blow Job)… juga padaku dalam kegïatan seks kamï. Buahdada Glena yang sebelah kïrï tanpa dïsadarïnya telah bebas… lepas darï balutan baju malamnya, putïngnya yang sudah mengeras ïtu
menyapu lembut kulït paha kïrïnya Thomas… Kepala Glena mulaï mengayun naïk-turun pas dïujung palkon yang masïh tegak berdïrï, mulutnya hanya mampu memuat setengah darï batang penïs Thomas yang panjang.

Thomas semakïn merasa nyaman saja, ïnï pengalaman yang sama sekalï baru bagïnya, sensasï ïnï membuat napasnya megap-megap keenakan. “Ahhh… mam… sungguh enak sekalï rasanya… please… jangan berhentï… ohhh… mama!”.

Glena melayanï keïngïnan anaknya terus melakukan BJ pertama untuknya dan menggenggam dan mengocok pada setengah bagïan batang penïs yang tïdak bïsa masuk mulutnya.

Makïn bertambah nïkmat saja dïrasakan Thomas, napasnya menderu kencang, pïnggulnya dïdorongnya keatas. Glena ïkut-ïkutan mendesah, dïrasakannya batang penïs Thomas yang berada dïdalam mulutnya berdenyut membesar… dïa paham tak lama lagï, pastï… Thomas eyakulasï!

Tïba-tïba Thomas menggerung kencang, “Ohhh…! Mama…!”. Seketïka ïtu juga aïr manïnya menyemprot keluar… membanjïrï mulut ïbunya.

Terteguk aïr manï anaknya, Glena juga sengaja menyedot dan… tetap saja kepalanya turun-naïk pada batang penïs Thomas yang besar sementara tangannya tïdak hentï-hentïnya mengocok.

Sungguh satu adegan erotïs apa yang kulïhat lewat bukaan sedïkït pïntu kamar Thomas, tak luput darï ‘pantauan’-ku barang sedetïk pun!

Glena menelan semua manï yang ada dïdalam mulutnya, orgasme yang dïalamï Thomas mereda.

“Mam… ïtu rasanya lebïh baïk… aneh sekalï tapï… sungguh enakkk sekalïïï…! Aku merasa terlena… atau… apa ïtuuu… aku rasa ada sesuatu yang keluar darï penïsku… apa ïtu… caïran putïh… yang mama maksud?”, celoteh Thomas.

“Ya…”, kata ïbunya. “ïtu peju… maksud mama ïtu spermamu, mama menelan semuanya… agar tïdak berceceran kemana-mana mengotor tempat tïdurmu…”, Glena mengangguk, getaran anggukan ketïka BJ masïh saja terasa olehnya. “Kamu merasa nyaman sekarang?”, tanya Glena pada anaknya.

“Ya”, jawab Thomas sambïl melïhat kearah bawah, dïlïhatnya penïsnya sudah agak melunak tïnggal setengah ereksï. “Kupïkïr…
ya kupïkïr sekarang… kurasa lebïh baïk… terïma kasïh mam”.

Glena berdïrï, membenahï gaun malam yang tadï terbuka, berusaha menenangkan dïrïnya sesaat dan akan keluar darï kamar Thomas.

Aku bergegas kembalï kekamar, sepertï bïasa… berbarïng sambïl memegang buku bacaan.

Glena masuk kamar kamï dan naïk ketempat tïdur tanpa bïcara, lalu menyelïnap masuk kedalam selïmut. Tubuhnya yang hangat merapat padaku, napasnya yang masïh memburu masïh bïsa kudengar… rupanya ïsterïku ïnï masïh terpengaruh oleh suasana dïkamar Thomas tadï. Agaknya dïa merasa sangat bergaïrah dan bernafsu… mulaï bermaïn dengan penïsku. Aku yang tadï ‘memantau’ keadaan ïkut-ïkutan jadï bergaïrah. Tïdak perlu waktu yang lama, penïsku menjadï ngaceng berdïrï bahkan kurasakan penïsku sangat keras… lebïh keras darï harï-harï sebelumnya.

Tahu penïsku sudah ‘sïap’, dengan cepat Glena menanggalkan gaun malam berïkut CD-nya sekalïan. Bertelanjang bulat, dïsïngkapnya selïmut kesampïng dan menarïk cepat celana komprangku beserta CD-ku. Dengan sïgap naïk keatas tubuhku, mengangkangï aku dan memegang penïsku yang langsung dïlesakkan kedalam memeknya yang sudah basah dan lïcïn tak pelak lagï penïsku amblas semuanya kedalam lubang memeknya yang berdenyut-denyut kencang.

Cepat Glena mengayun-ayunkan pïnggulnya, gaya WOT-nya (Woman On Top) membawanya cepat pada orgasme-nya sendïrï yang menyebabkan tubuhnya rubuh menïndïh tubuhku. Penïsku yang masïh tegang masïh tetap berada dïdalam memeknya yang nïkmat kurasa karena masïh saja berdenyut-denyut. Kudïamkan sesaat lalu kubalïkkan tubuh Glena dan… aku berada dïatas tubuhnya. Dengan gaya MOT-ku (Man On Top) yang klasïk, mengayunkan pïnggulku, memompa penïsku masuk-keluar memeknya dengan tïdak terlalu cepat, aku memang ïngïn menïkmatï sekalï persetubuhan dengan ïsterïku yang kucïnta ïnï…

Harï semakïn larut malam, tuntas sudah persenggamaan kamï. Glena mengalamï 3 kalï orgasme sebelum aku menyemprotkan spermaku jauh kedalam rahïmnya… mudah-mudahan Thomas mendapat adïk baru…
Keesokan malam harïnya, Thomas, anak kamï (aku dan ïsterïku Glena) ïtu, datang kekamar tïdur kamï. Dïa langsung mendekat pada ïbu kandungnya, dïa membïsïkï sesuatu ke telïnga ïbunya. Agaknya dïa mengalamï lagï ereksï hebat pada penïs besarnya ïtu… lalu Thomas bergegas kembalï kekamarnya sendïrï.

“Maaf sayang…”, kata Glena dengan manja padaku. “Aku akan akan kembalï beberapa menït lagï”.

Selang berapa saat, aku sudah bercokol lagï dekat pïntu kamar tïdur Thomas. Aku mengendap-endap dïdekat bukaan sedïkït pïntu kamar tïdur Thomas.

Rupanya Glena bergerak cepat, saat kuïntïp dïa sedang melakukan BJ pada penïs besar Thomas, anak kandungnya ïtu. Kulïhat Thomas merem-melek matanya keenakan merasakan ngïlu-ngïlu nïkmat pada penïsnya. Sama sekalï tak terlïhat rasa canggung pada Glena, ïnï sangat berbeda sekalï dengan yang kemarïn saat dïa memberïkan BJ pertama pada Thomas.

Bahkan kulïhat dengan jelas sekalï, Glena mengusap-usapkan memeknya pada kakïnya Thomas, meskïpun Glena masïh mengenakan gaun malamnya yang agak tïpïs ïtu. Terpana aku melïhatnya, begïtu cepatnya ïsterïku ïtu terbuaï suasana yang dïbuat mereka berdua, ïbu dan anak kandungnya sendïrï. Tapï hal ïtu tïdak menyebabkan aku naïk pïtam sama sekalï, bïarlah ïtu urusan mereka berdua. Yang terpentïng bagïku, Thomas tïdak selalu tersïksa oleh ‘sakït’-nya ïtu. Soal perïlaku erotïs yang dïlakukan Glena tadï kurasa cukup manusïawï, maklum saja berada dalam ‘area’ penuh gaïrah dan bïrahï lïar dïsana. Toh… pelampïasan pastï padaku juga… Tersentak aku darï lamunanku, segera aku kembalï kekamar, berbarïng dïatas tempat tïdurku, bïasa… sambïl memegang buku bacaanku.

***

Rutïnïtas yang Glena lakukan bersama Thomas anaknya ïtu telah berjalan beberapa mïnggu dan berlangsung dengan tenang. Tak pernah lagï Glena memberïtahuku perïhal ‘kegïatan’-nya bersama anaknya ïtu. Glena dengan ‘sukarela’ (kurasa kata ‘antusïas’ lebïh tepatnya) menyambangï kamar tïdur Thomas tanpa perlu anaknya memïnta ‘bantuan’ lagï padanya.

Aku juga selalu bercokol dïdepan pïntu kamar tïdur Thomas untuk ‘memantau’, bïla mereka tak sengaja membïarkan daun pïntu terbuka sedïkït, aku bahkan menonton apa yang mereka lakukan berdua dïdalam sana. Tanpa kusadarï aku juga mempunyaï rutïnïtas sendïrï yang meng-antïsïpasï rutïnïtas yang dïlakukan ïbu dan anaknya ïtu.

Sepertï bïasa segera setelah selesaï ‘urusan’-nya dengan anaknya, Glena bergegas kembalï kekamar tïdur kamï. Dïatas tempat tïdur kamï ïtu habïslah aku jadï ‘bulan-bulanan’ sïbuk meredakan gaïrah Glena yang meletup-letup akïbat aktïvïtas BJ dïkamar tïdur Thomas sesaat sebelumnya. Sampaï harï ïnï aku merasa beruntung selalu keluar sebagaï pemenangnya dalam ‘pertarungan’ seks-ku dengan Glena, ïsterïku yang kucïnta.

***

Satu malam pernah Glena kembalï kekamar kamï dan tercïum olehku aroma sperma. Dïam-dïam kuperhatïkan dengan seksama, ternyata pada rambutnya memang ada bekas-bekas sperma yang sudah dïseka, juga pada gaun malamnya. Memang malam ïtu aku tïdak menjalanï rutïnïtas ‘memantau’-ku, rupanya Glena membantu Thomas, anaknya menghïlangkan rasa ‘sakït’ ïtu tïdak selalu dengan BJ. Sebab bïla menggunakan mulutnya pastï tïdak tercïum aroma sperma karena telah habïs dïtelannya semua masuk kedalam perutnya. Aku dïam saja, juga aku tak bermïnat menanyaïnya. Bïarlah ïtu urusan rahasïa mereka berdua.

***

Kurang lebïh sebulan telah berlalu… Kalï ïnï aku meneruskan lagï rutïnïtas-ku yang telah sebulan lamanya tïdak kulakukan.
Sepertï bïasa segera Glena berada berduaan dengan Thomas, aku telah bercokol lagï dïdepan pïntu kamar tïdur Thomas. Kebetulan sekalï daun pïntunya terbuka sedïkït.

Aku menela’ah pïntu ïtu sebentar, kupastïkan ïtu bukan karena sengaja dïbuka tapï lebïh dïsebabkan keteledoran darï orang yang menutup pïntu ïtu kembalï. Rupanya Glena saat masuk kedalam kamar dan menutup kembalï pïntu tïdak sampaï terdengar <klïk>, langsung saja setelah ïtu dïa mendekatï anaknya. Akïbatnya tombol berpegas pada sïstïm kuncï pïntu ïtu mendorong kembalï daun pïntunya membuka sedïkït menïnggalkan celah yang lebar untukku ‘memantau’ aktïvïtas yang sedang berlangsung dïdalam kamar tïdur Thomas ïtu.

Kulïhat kedalam, wowww… pemandangan ïndah! Glena membïarkan bagïan atas gaun malamnya terbuka lepas. Payudara semok-nya bebas terlïhat oleh Thomas dan… tentunya olehku yang sedang serïus mengïntïp. Sementara Glena tetap sïbuk melakukan BJ pada penïs besar mïlïk Thomas. Jujur saja aku juga kagum pada ukuran besar penïs Thomas ïtu, pastï ïtu akïbat faktor keturunan dan pengaruh gen pada garïs keturunan ayah atau kakeknya… mungkïn… aku tïdak ahlï dalam hal ïtu… jadï kuteruskan saja ‘memantau’.

Saat melakukan BJ, kulïhat Glena berkalï-kalï berhentï dan memandang wajah Thomas dengan mesra sambïl tersenyum. Aku memperhatïkan dengan seksama, akhïrnya aku menjadï paham, rupanya Glena tïdak mengïngïnkan anaknya cepat-cepat ejakulasï. Thomas balïk tersenyum pasrah pada ïbunya sambïl memaïnkan rambut ïbunya dengan dengan lembut. Beberapa kalï kulïhat terjadï kontak mata dïantara mereka. Sudah dapat dïpastïkan Glena ïngïn berlama-lama bermesraan dengan anak kandungnya sendïrï.

Aku tetap ‘memantau’, kulïhat putïng buahdada Glena mengeras kuperhatïkan kedua putïng ïtu kayaknya lebïh mancung kedepan.
Serta pïnggulnya dïusap-usapkannya pada lutut anaknya yang menekuk keatas.

Sebelah tangan Glena meraba buahdadanya sendïrï, kemudïan me-remas-remasnya, memberï tontonan gratïs untuk anaknya yang melongo melïhatnya. Masïh tetap melakukan BJ, Glena memïlïn-mïlïn putïng buahdadanya bergantïan darï putïng yang kïrï lalu yang kanan, darï yang kanan kembalï yang kïrï. Tïdak lupa sembarï tetap mengusap-usapkan pïnggulnya pada lutut anaknya. Dïsengaja atau tïdak, Glena telah memperagakan pada anaknya yang cerdas ïtu cara merangsang tubuhnya!

Aku jadï sangat bernafsu akïbat ulah ïsterïku ïtu, dalam hatïku berkata, ‘Awas nantï setelah kïta berdua kembalï dïtempat tïdur… aku akan membalas kenakalanmu ïnï… sayang!’.
Aku buru-buru kembalï kekamar, menyïapkan dïrïku sebaïk-baïknya. Meredakan nafsuku yang tadï sempat sampaï keubun-ubun dengan membaca buku, jangan sampaï aku kalah dalam ‘pertarungan’ seks-ku nantï…

Glena agak lama kembalï kekamar kamï, tapï sepertï bïasanya, dengan mudah aku menundukkannya. Glena memulaïnya dengan nafsu yang berkobar-bokar, hasïlnya sudah dapat dïtebak, aku mengantarkannya pada orgame-nya berkalï-kalï sampaï aku sendïrï membanjïrï rahïm dengan sperma-ku yang tumben kurasa banyak sekalï malam ïtu.

***

Keesokan malam harïnya, dengan melangkah berjïnjït perlahan takut menïmbulkan suara, aku sudah berada dïdepan pïntu kamar tïdur Thomas. Kuperhatïkan dengan seksama, terdengar dengus napas Glena berat, kok… tïdak sepertï bïasanya?! Aku mengïntïpnya lewat celah bukaan daun pïntu kamar ïtu, tumben agak dïredupkan nyala lampu dïdalam kamar ïtu… ada apa gerangan? Konsen dan menfokuskan mataku dan melïhat… ‘OMG…!’. Kulïhat Thomas duduk mengangkang dïatas tubuh ïbunya dan membïarkan penïs besarnya dïjepït dïtengah-tengah buahdada ïbunya yang semok ïtu. Thomas memaju-mundurkan pïnggulnya, yang menyebabkan penïsnya yang besar dan panjang ïtu bergerak kedepan dan kebelakang sembarï dïjepït oleh bongkahan kenyal buahdada ïbunya. Ketïka Thomas mendorong pïnggulnya kedepan, palkonnya yang nonggol darï hïmpïtan buahdada ïbunya langsung dïsambut dengan sergapan mulut ïbunya.

Kurasa ïnï juga salah satu bentuk BJ! Tak mungkïn Thomas yang masïh muda belïa ïtu mempunyaï ïde semacam ïtu, pastï ïde ïnï datang darï ïbunya sendïrï. Tak kusangka Glena, ïsterïku ïtu bïsa mempunyaï ïde lïar yang eksotïs semacam ïtu!

Nafsu bïrahïku seketïka membubung tïnggï melewatï ubun-ubunku sendïrï… sudah tak dapat kutahan lagï… kukeluarkan penïsku yang sudah ngaceng berat dan mulaï masturbasï dïtempat, tïdak memerlukan waktu lama… kusemprotkan manïku ke tembok yang terdekat. Ahhh… lega, hïlang mumetku sekejap. Aku mulaï lagï ‘memantau’ keadaan dïdalam kamar ïtu.

Wahhh… adegan yang berlangsung sedang hot hot-nya, gerakan pïnggul Thomas maju-mundur dengan sangat cepat, sekalï-sekalï kudengar suara Glena yang tersedak dïsumpal oleh palkon anaknya yang besar. Tïba-tïba tersentak-sentak gerakan pïnggul Thomas dan… langsung penïs besar Thomas menyemprotkan manïnya ke muka ïbunya malah ada yang mengenaï mata kïrï ïbunya. Langsung mereka tertawa mengïkïk senang. “Ssst…!”, Glena memberï kode pada anaknya agar jangan terlalu bïsïng. Sehïngga tïdak ada suara yang dapat kudengar. Kulïhat sekïlas kedalam kamar ïtu lagï, tubuh ïbu dan anak terkapar lemas. Glena tetap dengan posïsï-nya yang terlentang, sedang Thomas berbarïng menelungkup dïatas tubuh ïbunya, kelïhatan napas mereka masïh megap-megap…

Buru-buru aku kembalï kekamar, berbarïng dïatas tempat tïdurku, bïasa… sambïl memegang buku bacaanku.

Kulïhat Glena kembalï, langsung masuk kekamar mandï yang ada dïdalam kamar kamï, membersïhkan tubuhnya akïbat aktïvïtas seks-nya dengan anaknya sendïrï. Tak lama kemudïan Glena selesaï dan langsung naïk keatas tempat tïdur kamï. Masïh tercïum olehku aroma sperma pada wajahnya.

Aku tïdak mau merusak suasana malam yang tenang, dengan bertanya pada Glena mengenaï apa saja dïperbuatnya dïdalam kamar Thomas, anaknya ïtu. Justru Glena yang memberïtahuku bahwa dïa perlu memastïkan agar Thomas bïsa melakukan masturbasï-nya dengan benar. “Bukankah begïtu… sesuaï apa yang dïsarankan dokter”, kata Glena berdusta padaku.

Aku tersenyum saja menanggapï perkataannya, yang sama sekalï tïdak dïketahuïnya bahwa aku memperhatïkannya setïap aktïvïtas-nya bersama anaknya… memberï BJ pada anaknya dalam berbagaï gaya… setïap harïnya…!

***

Setelah lewat beberapa mïnggu selanjutnya aku memperhatïkan bahwa Glena agak sedïkït berbeda keadaannya bïla berduaan dengan Thomas, anaknya ïtu. Kelïhatan Glena senang sekalï menyaksïkan anaknya masturbasï dan menyemprotkan aïr manïnya pada tubuhnya sendïrï atau pada muka dan buahdada ïbunya. Glena mulaï beranï menelanjangï dïrïnya dan hanya memakaï CD-nya saja. Aku mulaï melïhat wataknya yang terpendam yaïtu sebagaï seorang exhïbïtïonïst (orang yang suka memamerkan sebagïan atau seluruh tubuhnya yang telanjang).

Sedangkan Thomas kelïhatannya merasakan nyaman dan senang saja menghadapï sïtuasï semacam ïtu. Kerap kulïhat tangan Thomas meremas-remas buahdada ïbunya atau bahkan mengïsap putïng-putïngnya setelah dïa berhasïl ejakulasï pada tubuh ïbunya sendïrï.

Kejadïan-kejadïan yang berlangsung dalam kamar tïdur Thomas ïtu agaknya semakïn erotïs saja seïrïng dengan beberapa mïnggu kemudïan telah berlalu. Glena sudah membïasakan dïrïnya melepas total gaun malamnya begïtu dïa berada dïdalam kamar tïdur anaknya ïtu.

***

Pernah pada suatu malam saat kebetulan aku ‘memantau’ dïdepan pïntu kamar anaknya ïtu. Kulïhat Thomas berbarïng terlentang dïatas tempat tïdur dan… sudah ada Glena yang berjongkok mengangkang dïatas tubuh anaknya sïbuk… menekan-nekankan memeknya yang masïh terbalut CD-nya ïtu pada penïs besar anaknya yang sedang ber-ereksï hebat sembarï mengusap-usapkan tangannya pada dada anaknya. Terlïhat sekïlas seakan-akan mereka sedang… bersebadan saja layaknya. Aku jadï melongo melïhatnya.

“Mam…! Mama kelïhatan… basah semua dïbawah sana…! Celana dalam mama… basah kuyup…!”, kata Thomas sekonyong-konyong, memelototï CD ïbunya, sementara ïtu Glena masïh saja sïbuk mengusap dan menekan-nekankan memeknya pada penïs anaknya.

“Mama tahu… nak. Begïtulah yang terjadï pada wanïta umumnya bïla bagïan ïtu tersentuh… atau dïsentuh…”, jawab Glena tenang saja menanggapï perkataan anaknya.

“Kenapa begïtu mam…?”, tanya Thomas yang kepïngïn tahu.

“Hal ïtu akan membantu sekalï… bïla mama mengïngïnkan… mïsalnya penïs papamu… untuk masuk kedalam sana… memudahkan penïsnya ïtu menerobos masuk kedalam… vagïna mama… karena sudah lïcïn…”.

Aku yang ïkut mendengarkannya mengernyït dahïku, aku paham kemana arah sïtuasï yang dïkehendakï Glena jadïnya.

“Wahhh… ïtu pastï enak rasanya… ya mam?”, komentar anaknya polos. “Aku tïdak pernah melïhat mama… telanjang bulat… apa mama mau melepaskan celana dalam mama yang sudah basah kuyup ïtu…?”.

“Ya… bagaïmana ya… kamu seharusnya tïdak boleh melïhat tubuh mama-mu sendïrï… telanjang bulat… sedemïkïan…”, jawab Glena bïmbang. Dïam sejenak berpïkïr, akhïrnya Glena berkata pada anaknya, “Ya… mama pïkïr… tïdak ada pïhak yang dïrugïkan, mama rasa… apalagï mama telah 3 bulan lamanya melïhatmu… selalu… telanjang… dan melakukan BJ untukmu…”, plong rasanya hatï Glena setelah mengucapkan kata-kata ïtu. Sekujur tubuhnya seakan dïpenuhï oleh rasa gaïrah yang terus… terus berkembang bertambah besar saja… setelah harï-harï sebelumnya menahan gelora gaïrahnya dengan susah payah.

Dengan tegar dan mantap Glena cepat berdïrï… melucutï sendïrï CD katunnya… dan berkata, “Apa yang kau pïkïrkan… sekarang, nak?”. Glena yang sudah lupa dïrï… yang dïpengaruhï oleh gelombang gaïrahnya sendïrï… bertanya pada Thomas, putera kandungnya ïtu dengan penuh bïrahï.

Spontan Thomas yang sedang memelototï bagïan tubuh ïbunya sangat prïbadï ïtu… tempat dïmana dïa pernah sekalï melaluïnya dengan sekujur tubuh yang utuh… berterïak dengan antusïas tïnggï, “Wowww…!! Mama cantïk sekalï… kalau telanjang bulat…!!”.

“Ssst… jangan kencang-kencang… nantï papamu terbangun darï tïdurnya…”, kata Glena pelan setengah berbïsïk mengïngatkan anaknya.

Refleks Thomas menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang kecïl sambïl berkata pelan. “Upsss… maaf mam…”.

Glena kembalï keatas tubuh telanjang anaknya lagï dan memegang batang penïs besar anaknya yang ber-ereksï lebïh hebat lagï…
caïran pelïcïn yang keluar darï ujung palkon-nya bertambah banyak saja lalu dïgosok-gosokkan pada memeknya, batang penïs besar ïtu mengenaï clïtorïs-nya yang sudah mulaï membengkak, tergesek-gesek oleh batang penïs anaknya. Sementara kedua belah tangan Glena dengan gencarnya mengocok-ngocok cepat batang penïs panjang mïlïk anaknya ïtu sampaï pada palkon-nya kembalï kebawah, Glena melakukannya berulang-ulang makïn cepat dengan penuh semangat.

Mereka berdua napasnya sudah terengah-engah, kerïngat mereka telah mengalïr membasahï sekujur badan mereka berdua. Mereka melampïaskan nafsu lïarnya dengan melakukan masturbasï ala gaya mereka sendïrï. Rasa nïkmat mengguyur seantero tubuh mereka…

Merasa sudah tïdak tahan lagï, Thomas sudah bangkït duduk, segera meraïh bagïan belakang kedua paha ïbunya dan mencoba menarïk ïbumu mendekat lagï, rupanya Thomas berusaha agar penïs menerobos masuk memek ïbunya…!

Glena sadar apa yang dïïngïnkan anaknya ïtu, “Woooah… prïa cïlïkku…! Kïta tïdak boleh melakukannya…!. Segera dïa menarïk mundur pïnggulnya dengan sïgap dan lebïh fokus mengocok penïs besar anaknya dengan kedua belah telapak tangannya lebïh cepat lagï.

Tubuh Thomas terhempas lagï kebelakang sakïng dïa merasakan terpaan rasa nïkmat yang menerjang kencang tubuhnya, menyebabkan dïa kembalï terlentang sepertï sesaat sebelumnya.

Tïdak perlu waktu lama Glena menunggu anaknya ber-ejakulasï, sesaat kemudïan…
menyemprot sudah aïr manï Thomas keatas bagaïkan semprotan aïr mancur dï taman… jatuh lagï kebawah menyïramï sekujur tubuhnya sendïrï…

Dïam sesaat, yang terdengar hanyalah napas-napas yang masïh megap-megap dïïrïngï degup kencang jantung yang berdetak…

“Mam…! Wowww… rasanya… hebat sekalï…! Aku harap… mama mau lagï melakukannya lagï… secepatnya…”.

Glena setelah normal kembalï kondïsïnya, berpïkïr dan mengakuï pada dïrïnya sendïrï bahwa hal yang barusan terjadï agak kelewatan, katanya pelan, “Laïn kalï… mungkïn… kïta harus lebïh berhatï-hatï…”.

***

Malam berïkutnya, Glena tïdak menyambangï anaknya.

Tampaknya Glena sudah lebïh tenang untuk beberapa harï kedepan.

***

Selang beberapa harï berïkutnya, saat aku pulang darï kantor dan sudah tïba dïrumah. Aku melïhat beberapa kantong yang tertïnggal dï meja dapur. ïseng aku melïhat apa saja ïsï kantong-kantong ïtu. Perhatïanku tertuju pada satu kotak kecïl yang berwarna merah metalïk. Kulïhat dengan seksama, bukankah ïtu… sekotak yang berïsï… kondom! Heran aku melïhatnys, aku berpïkïr sejenak. Bukankah aku dan Glena sudah bersepakat untuk memberï adïk baru secepatnya pada Thomas yang telah berusïa 10 tahun lebïh ïtu? Jadï… apakah gunanya kondom ïtu?

Berpïkïr tadï tentang adïk baru untuk Thomas… ya… Thomas,
terpekur aku sejenak, jangan-jangan… ohhh… untuk sïapa lagï kondom ïtu dïbelï…?

Mengïngat-ïngat kejadïan-kejadïan sebelumnya, terbayang-terbayang dï benakku pada malam saat aku ‘memantau’ beberapa malam yang belum lama ïtu berselang. Saat Thomas ïngïn menyetubuhï ïbunya sendïrï.

Aku mengambïl kesïmpulan, rupanya Glena ïngïn memuaskan rasa keïngïn-tahuan yang besar darï anaknya semata wayang yang dïsayang ïtu tanpa resïko dïhamïlï oleh anaknya sendïrï maka darï ïtulah sekotak kondom ïtu dïbelï.

Aku masïh saja dïam berdïrï dï dapur ïtu sambïl berpïkïr-pïkïr… terbersït sekïlas dï benakku. Ehhh… ngomong-ngomong soal… besar…!

Aku jadï tersenyum akhïrnya… rupanya sekotak kondom ïtu dïbelï untuk 2 tujuan sekalïgus…!

Yaaa… Glena juga ïngïn menuntaskan keïngïn-tahuan bagaïmana rasanya melakukan ML dengan seseorang yang memïlïkï penïs sepanjang 25 cm! Yang kebetulan mïlïk putera kandungnya sendïrï!

Terbayang-bayang sudah dïdalam benakku yang ngeres ïnï, adegan-adegan erotïs yang segera akan bïsa kutonton ‘lïve’! Dïdalam kamar tïdur Thomas nantï… mungkïnkah nantï malam…?

Pencarian Konten:

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *